Powered By Blogger

"metamorfosis"

ingin menjadi seperti garam, yang apabila melebur bersama semangkok sayur, dia akan tetap asin, walaupun wujudnya sudah tdk terlihat.... (sok puitis ya gw) ws rendra bukan, apalagi chairil anwar, sabodo teuing lah... yach inilah gw, manusia sederhana yang mencoba untuk menjadi kaya,maksudnya kaya hati gan, kalo kaya harta ane belom nyampe kesitu, maklum,cuma karyawan rendahan, yang kalo makan siang larinya kerumah,,, pengen sich kaya yang laen gitu, tiap makan siang bisa duduk manis di resto telaga,atau sambil ketawa ketiwi di sari kuring sambil BBMan,nikmaaat!!! tapi gaji ane gak cukup gan buat makan disitu hiks hiks,,, lah! kenapa gw jadi curhat ya? tapi gak papa dech! kali-kali aja setelah membaca curhatan gw ada yang hatinya tergugah dan segera nraktir gw,ngarep dot.com (gw pernah berjanji buat gak pake nich joke) hahahaha akhirnya dipake juga, emang manusia gak ada yang konsisten dengan omongannya sendiri,hari ini dia ngomong A besok dia ngomong Z, termasuk gw juga sich... tapi kan manusia emang sarangnya salah dan dosa, sarangnya bohong, sarangnya munafik, sarangnya gombal, sarangnya... sarangnya... sarangnya.... waduuh, kalo dibeberin kejelekan manusia dari sabang sampe merauke,gak cukup layarnya gan, hihihi...

Selasa, 27 Desember 2011

krakatau....

             Siapa yang nggak kenal gunung krakatau, salah satu gunung yang ledakannya maha dahsyat di dunia! abunya menutupi sebagian asia tenggara, asapnya sampe hijrah ke australia, walaupun ledakan itu terjadi lebih dari satu abad yang lalu, tapi gaung krakatau masih tetap memukau, walaupun yang masih tersisa hanya anaknya saja, pesona krakatau tetap abadi sampai kini, dan untuk menghilangkan rasa penasaran saya, jum'at tanggal dua puluh tiga desember atau dua hari menjelang natal, kami dari forum backpacker indonesia akhirnya berkesempatan bertamu ke krakatau.
            Meeting point di pelabuhan merak jam dua belas malam,  akhirnya molor sampai tiga jam, karena banyak teman-teman yang kejebak macet, saya,mbak saenah,mas dodik dan rudy yang lebih dulu dateng akhirnya pasrah menunggu teman-teman yang lain,kami rehat di masjid yang masih satu kawasan di pelabuhan merak, dan ternyata kami bukan orang pertama yang masuk ke masjid ini, di serambi masjid sudah banyak orang-orang yang buka lapak buat tidur, atau cuma sekedar buat ngobrol, setelah membuka sandal dan melepas ransel, kami pun mulai selonjoran' lumayan buat ngilangin rasa capek setelah hampir tiga jam berada di mobil, sayangnya saya punya penyakit insomnia, walapun mata saya tutup rapat-rapat tapi tetep nggak bisa tidur, sementara mbak saenah dan mas dodik sudah terbang ke langit ke tujuh, begitupun rudy' walhasil saya merelakan kuping saya mendengar suara-suara yang campur aduk.
                 Sekitar jam setegah dua, hujan tiba-tiba turun, serambi masjid tempat kami istirahat pun terkena siraman hujan juga, cuaca makin dingin bbrrrr.... dan tiga jam yang menjenuhkan itupun berlalu, setelah teman-teman dari bpi datang, kamipun berkumpul di lobby pelabuhan, setelah yang empunya acara yaitu andy getsuga sedikit memberikan celoteh, kamipun mulai menaiki kapal ferry yang akan membawa kita ke bakauheni, lampung setelah sebelumnya kita berdoa dulu agar selama perjalanan kami semua selamat.
di atas kapal ferry
                
              Perlahan sang ferry pun beranjak dari dermaga merak untuk membawa kami ke bakauheni, di dalam kapal suasananya begitu panas, maklum kelas ekonomi,jadi cuma kipas angin sebagai penghilang gerah,  sebagian bangku pun masih banyak yang kosong, mungkin orang-orang lebih senang berada di dek kapal sambil menikmati semilir angin malam dan melihat kerlap-kerlip lampu kota merak, tidak terkecuali saya,rudi dan wahyu kami bertiga pun hengkang dari ruangan kapal yang super gerah itu dan lebih memilih duduk di dek kapal sebelah kanan, sambil di temani sebungkus starmild dan sebungkus biskuit pemberian rudy.
                       Jam enam lewat empat menit akhirnya kapal pun bersandar di dermaga bakauheni,satu persatu penumpang pun mulai turun, untuk sampai ke luar pelabuhan kita harus menyusuri tangga yang menghubungkan kapal dengan pelabuhan khusus penumpang,dan langsung turun untuk menuju terminal yang posisinya persis di bawah dermaga, dan di bawah sudah menunggu angkot berwarna kuning yang memang sudah di carter sebelumnya, setelah semua team naik satu-persatu angkot-angkot pun mulai menyusuri jalur trans sumatera untuk menuju ke dermaga canti di lampung selatan, butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di dermaga canti, jalan yang di lalui pun terlalu sempit, mobil harus berhati-hati agar tidak menyerempet mobil di depannya pada saat berpapasan, dermaga canti masuk ke dalam kecamatan rajabasa kabupaten lampung selatan, dengan ibukotanya Kalianda' tidak ada yang istimewa dari kota ini, seperti kota kecil pada umumnya hanya ada jejeran ruko-ruko tua yang banyak di tutup dan rumah-rumah penduduk yang kondisi rumah-rumahnya mirip rumah-rumah di pulau jawa.
                Sempat tertidur beberapa saat, akhirnya sampai juga di dermaga canti, sebuah pelabuhan kecil yang dermaganya hanya terbuat dari bilah-bilah kayu yang di susun memanjang, tidak ada keramaian yang lazim di sebuah dermaga, hanya ada satu warung makan, tempat cucian motor, toilet yang letaknya persis di belakang warung makan, dan sebuah mushola bercat biru yang menghadap ke laut, karena dari semalam kami belum makan, tanpa buang waktu kami langsung ke warung makan tersebut, tanpa di perintah saya langsung menyendok nasi dan mengambil selembar telor dadar, tempe goreng dan sayur rebung dan sedikit sambel, teh manis hangat menjadi pelepas dahaga, dan total yang harus saya bayar sepuluh ribu rupiah.

               Sambil menunggu teman-teman lain menyelesaikan makannya, merokok adalah hal ternikmat setelah makan, sambil ngobrol ngalor ngidul dengan rudy dan wahyu di tepian dermaga canti, di depan kami terhampar luas lautan biru dan nampak dari jauh pulau sebuku dan sebesi yang akan menjadi persinggahan kami selanjutnya.
         Setelah di rasa cukup, perjalanan pun di lanjutkan kembali, kapal yang kami tumpangi hanya sebuah kapal kayu bermesin tempel, persis kapal yang saya naiki waktu trip ke pulau untung jawa, tapi kapal ini lebih aman, karena adanya rompi pelampung yang masing-masing dapat jatah satu, kontras sekali dengan kapal yang saya naiki waktu trip ke untung jawa, dimana hanya ada tiga pelampung usang dan beberapa ban yang di ikat di sisi perahu, sementara jumlah penumpang puluhan orang, tidak terbayangkan gimana jadinya kalau seandainya kapal itu terbalik di hantam ombak, wasallam dech...
           Selama perjalanan menuju pulau sebuku, saya lebih tertarik untuk naik di atas kapal, karena pemandangan akan lebih terlihat jelas tanpa terhalang apapun, dan hal ini pun di amini oleh wahyu, rudi, nadri dan veriz, tanpa di komando siapapun kami langsung naik ke atas kapal, sambil mengabadikan sisi-sisi terbaik dari tempat ini.     
                                                               

                      Satu jam yang mengasyikan akhirnya usai juga, di depan kami nampak jelas terlihat pulau sebuku dan pulau sebuku kecil, air yang jernih di tambah pasir putih yang menghampar membuat saya ingin cepat-cepat turun dari kapal, setelah kapal melepas jangkar, temen-teman dari bpi langsung berhamburan ke pantai nan jernih ini, dan tentunya moment seperti ini sangat sayang untuk di buang...



siapa yach yang senyumnya paling oke....

masih nyambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar