Jumat 13 sept 2013
Awalnya nggak sengaja buat ngesot kegunung ini, cuma chit chat digrup dan
karena kebetulan untuk bulan ini belum ada plan, maka kita-kita sepakat buat
jelajah ke prau, setelah hunting tiket dan akhirnya dapet juga
untuk
keberangkatan tanggal 13 september menumpang kereta tawang jaya, untuk
petualangan kali ini ada delapan personel, empat cowok kece dan empat
cewek
manis namun rada sarap wkwkwkwk! Lima personil alumni rajabasa dan dua
personil
alumni sindoro, digrup cewek ada mina, cewek tomboy yang lebih seneng
dibilang
tampan, hoby bela diri dan memasak, ane masih meragukan apakah doi
bener-bener
cewek atau bukan hahahha,untunglah doi pake jilbab jadi sifat sangarnya
sedikit
tertutupi hihiihi, personil yang kedua adalah prista, cewek bekasi yang
terobsesi ingin menggantikan riani jangkaru sebagai host dijejak
petualang,
namun sampe sekarang belum ada tawaran sama sekali, sabar eaa kakaa..!
personil
selanjutnya uti, cewek chuby yang hoby ngemal dan mantai, dan pengen
banget
gabung di grup band cherybelle, hingga rela mati-matian buat ikut nanjak
agar langsing dan singset dan diterima digrup yang chibi-chibi
itu , dan personil terakhir di kelompok cewek ada
tia, cewek berjilbab dengan kawat gigi yang begitu gahol, rada manja
kadang
pendiem, tapi sekali ngebully buat kuping panas!! . Untuk personil
cowok, ada
jamil saudagar power bank dan pemilik restoran padang “takana juo” yang
sebentar lagi akan membuka cabang di zimbabwe, lalu ada ican dan iwan
new comers digrup kami , yang akhirnya menemukan
benih-benih cinta disisni ”
Oke! Perkenalan sudah cukup, dan kita sepakat meeting point point di
stasiun senen jam sembilan malam, uti yang pertama hadir karena doi kebagian
nuker tiket,disusul prista dan yang lainnya, dan ane personil terakhir yang
dateng, saat dimana menit-menit terakhir kereta akan berangkat, fuihh” setelah
pasukan lengkap dan kereta tawang jaya pun sudah nongol, tanpa basa-basi kita
langsung menyerbu kedalam kereta, ane,uti,jamil dan ican kebagian di gerbong empat,
sedangkan mina,prista,tia dan iwan ada digerbong enam, ruangan didalam gerbong
lumayan dingin karena semua kereta ekonomi jarak jauh sudah dipasang ac semua,
ditambah dibawah meja kecil dipasang terminal untuk mencarger hp, waduuhh,,,
saya semakin cinta dengen kereta api sepertinya , tepat jam sepuluh lebih sepuluh petugas
kereta memberi aba-aba agar kereta tawang jaya agar segera berangkat, dan
perlahan kereta meninggalkan stasiun senen, tuuiiiiiiitttt..!!!
Dini hari sekitar jam lima lewat tiga puluh, kereta yang kita tumpangi
berhenti distasiun weleri, udara masih terasa segar, kabut tipis masih
mengambang dan rona merah mulai memancar diufuk timur, masih ada waktu untuk
sholat subuh sebelum sang fajar benar-benar terbit menyapa bumi, kelar sholat
sambil memanggul keril dipunggung, akhirnya kita kelar dari stasiun, tujuan
kami berikutnya adalah cari tempat pengganjal perut, dan persis di samping
pasar penjual bubur ayam dengan gerobaknya siap kami borong hahaha, sebenarnya
bubur ayamnya menurut ane sama sepeti bubur ayam pada umumnya, hanya berupa
bubur putih dengan kuah dan suiran daging ayam dengan sedikit kacang, tapi
bubur ini terasa nikmat, atau mungkin memang ane yang lapar? “ ok, urusan perut sudah beres, sambil menunggu
personil cewek yang sedang beli logistik dipasar weleri, menghisap sebatang
rokok sehabis makan emang nikmat, sekira jam delapan kita pun siap menuju
wonosobo, dengan mencarter angkot yang pernah ane pake waktu kesindoro, dan
untuk kali inipun sang sopir masih mengajak cem-cemannya yang makin berubah
drastis, rambut panjang tergerai, dengan warna merah mencolok, legging ketat
menutup kakinya yang kecil, dan baju lengan pendek dan tetap dengan logat
jawanya yang medok saat ngobrol dengan sang sopir yang sampe sekarang ane nggak
tau nama itu sopir hahahahha...
Sekira jam sebelas siang, akhirnya kita tiba di basecap gunung prau, letaknya dibelakang balai desa patak banteng, setelah packing ulang dan registrasi dan membayar tiket masuk sebesar tiga ribu perak, pendakian ke prau pun akan segera kita mulai,hecieee....
Sekira jam sebelas siang, akhirnya kita tiba di basecap gunung prau, letaknya dibelakang balai desa patak banteng, setelah packing ulang dan registrasi dan membayar tiket masuk sebesar tiga ribu perak, pendakian ke prau pun akan segera kita mulai,hecieee....
| sebelum memulai pendakian |
Jalur pendakian diawali dengan memasuki perkampungan penduduk, untuk yang
baru pertama kali kesini mungkin agak sedikit menyulitkan, karena kita harus
melewati jalan-jalan kecil diantara rumah penduduk, selepas melewati sungai
kecil dan beberapa anak tangga, jalanan berbatu akan menjadi jalur berikutnya,
dibawahnya hamparan kebun sayuran aneka rupa sedikit memanjakan mata, selepas jalan
berbatu kami berbelok kekiri dan kembali trek menanjak jadi santapan
berikutnya, pemandangan masih berupa kebun sayuran yang belum siap dipanen,
sepanjang jalur ini cantiknya bunga daisy mulai terlihat, tumbuh diantara
rerumputan dan ilalang, menjelang azan zuhur kami tiba di pos tiga, istirahat
diantara rimbunnya cemara, dari sini telaga warna jelas terlihat, warnanya yang
hijau kebiruan nampak kecil antara perbukitan yang mengapitnya, puas
beristirahat perjalanan dilanjutkan kembali, jalur menuju puncak semakin curam
dan menanjak, vegetasi berubah menjadi semak belukar, dijalur ini ane sempat
melihat rumpun edelweis walau Cuma beberapa dan cantigi yang warna khas daunnya
yang merah tua,karena pendakian kami lakukan masih dimusim panas, sepanjang
jalur tanah begitu berdebu, diselingi kabut yang tiba-tiba datang,membuat cuaca
menjadi susah ditebak, dan akhirnya setelah melewati beberapa tanjakan curam dan
sedikit bonus berupa dataran yang ditumbuhi hamparan bunga daisy, akhirnya kita
tiba dipuncak prau, yeeaaa!!! Dan semua personil bersuka cita terutama uti yang
sepanjang perjalanan menuju puncak mukanya ditekuk tanpa ekspresi hahahha...
Puncak prau cukup luas, bisa untuk mendirikan puluhan tenda, saat kami tiba
dipuncak, sudah ada beberapa tenda milik pendaki lain yang lebih dulu datang, dan
ternyata prista sudah lebih dulu sampai, tendanya telah berdiri cantik, setelah
mencari posisi yang tepat,akhirnya tenda ane berdiri dengan gagahnya ,
berdampingan dengan tenda prista dan ican,makin sore makin banyak pendaki yang
berdatangan, lapak-lapak yang awalnya kosong kini telah dikavling oleh para
pendaki, dan puncak prau begitu berwarna dengan tenda-tenda para pendaki.
Semakin sore udara makin menusuk, kabut putih memenuhi seluruh area puncak
gunung, ini berakibat perut menjadi keroncongan, akhirnya kita buka logistik
untuk memasak, kali ini mina bertindak sebagai kokinya, dan sore itu di temani
rintik kabut yang tipis,sepiring nasi,sepotong tempe goreng dan sosis goreng
jadi menu makan terlezat kita.
| masak-masak |
Menjelang malam cuaca dipuncak prau masih tertutup putihnya kabut, rencana
makrab sambil melihat cahaya bulan dan gemerlap bintang akhirnya kandas, karena
kabut dan gerimis kecil masih setia hingga pertengahan malam, walhasil kami
cukup ketawa ketiwi didalam tenda, hingga menjelang pagi ane nggak bisa tidur,
karena terbangun oleh suara riuh dari para pendaki lain, malam itu puncak
gunung prau mirip terminal, suara gaduh dari para pendaki mirip orkestra yang
amburadul, teriakan,nyanyian,ngobrol ngalor ngidul, baru berhenti saat fajar
menjelang.
Minggu 15 september 2013
Sunrise!!!! Sunrise!!! Begitu teriakan dari para pendaki, ane lirik jam sudah
setengah enam, akhirnya keluar tenda bareng ican, sementara yang lain masih
ngorok didalam tenda, terutama ditenda cewek,dimana suara dengkurannya begitu
terasa, entah siapa yang ngorok??? Hahahhaha!!!” udara diluar masih dingin
nyelekit, sendal yang ane pake terasa dingin, dan nampak dari arah timur, sang
fajar mulai menyingsing, semburat jingga berpendar memenuhi langit, dan semua
orang berteriak,Namun itu nggak bertahan lama, kabut
putih kembali memainkan peranannnya, dan langit kembali gelap, dan akhirnya ane
putuskan untuk kembali ketenda, sambil menunggu langit cerah kembali, akhirnya
kami memasak untuk sarapan pagi, dan kembali koki kita minayang jadi andalan
hehehe, karena siang nanti kita turun gunung maka sisa logistik kita habiskan,
benar-benar sarapan yang mewah, ada capcai, spagheti, pangsit goreng semuanya
enak-enak, saat seru-serunya kami memasak, dari arah timur sang mentari kembali
berpijar, dan tanpa dikomando kamipun berhamburan menuju sisi puncak gunung
prau, nggak peduli bahwa kami sedang masak hahahha, perlahan mentari mulai
menampakan cahayanya yang keemasan, kabut putih yang awalnya menutupi langit
berangsur sirna berganti dengan sinar mentari yang hangat,kilaunya memancar
hingga menembus perbukitan yang ada disekitar kami, padang savana dengan
ilalangnya sejenak berubah menjadi kuning keemasan, nun jauh ditimur sana,
jejeran pegunungan berbaris indah, lawu,merapi,merbabu dan yang paling dekat
sindoro sumbing begitu jelas terlihat, warnanya yang kebiruan nampak cantik
dengan selimut awan putih yang membentuk seperti permadani besar didasarnya,
Subhanallahu!!! Begitu besar karya sang Illahi, hingga untuk beberapa saat kami
terpaku dengan pesona alam yang sungguh indah ini, namun keindahan itu tidak
berlangsung lama, perlahan kabut putih kembali datang bergerombol,dan menutup
keindahan yang ada didepan kami, beruntung momen yang yang hanya berlangsung
lima menit tersebut sudah ane simpan dikamera pocket ane hehehhe....
| sunrise yang menawan |
| subhanallahu!!! |
| narsis sebelum turun |
Dan akhirnya petualangan kita ke negeri diatas awan berakhir juga, siang itu setelah sarapan dan packing, kita meninggalakan puncak prau, sebelum turun kami mengabadikan momen-momen dimana langit kembali cerah, perjalanan turun lebih terasa cepat, sebelum zuhur kami sudah tiba dibase camp patak banteng, kami singgah sebentar disebuah rumah penduduk yang menjual carica, buah khas daerah wonosobo, sambil menunggu personil yang lain bersih-bersih rehat sebentar sambil menikmati manisan carica memang aziib!”.
Selepas zuhur perjalanan kami lanjutkan kedieng, karena jadwal kereta
pulang nanti berangkat jam delapan malam, jadi masih ada waktu sekitar empat
jam untuk menikmati keindahan dieng, dan tempat pertama yang kami tuju adalah
candi arjuna, sebuah komplek candi hindu yang beberapa bangunannya masih
berdiri kokoh dan sebagian hanya tinggal reruntuhannya saja,dipintu masuk
sekelompok pengamen jalanan mendendangkan lagu-lagu yang kurang begitu jelas,
halaman candi cukup luas ditumbuhi rerumputan hijau dan cukup bersih,diselingi
kabut yang menyelimuti kawasan candi,beerapa bagian candi menjadi samar terlihat,
puas bernarsis ria perjalanan kami
lanjutkan ke kawah sikidang, jaraknya sekitar sepuluh menit dari komplek candi
arjuna, saat turun dari mobil beberapa pedagang masker berhamburan ke arah kami
sambil menawarkan masker, dua ribu perak untuk satu masker, sekitar seratus
meter dari arah pintu masuk kawah, aroma belerang begitu menyengat!, aroma khas
belerang seperti bau kentut, kami nggak berlama-lama disini, hanya melihat
sebentar dan ane berfikir kawah sikidang mirip seperti kawah belerang
dipapandayan.
| candi arjuna |
| makan mie ongklok |
Menjelang sore petualangan kami ditutup dengan menyantap mie ongklok,
warung mie yang berada diperbatasan antara wonosobo dan banjarnegara ini cukup
ramai, semangkok mie ongklok dan seporsi sate sapi ludes tak bersisa!” kecuali
irisan kolnya karena ane memang gak suka, dan petualangan tiga hari ke negeri
diatas awan akhirnya berakhir, angkot yang kami tumpangi melipir menuju
purwokerto, dan seribu cerita manis tentang negeri di atas awan tak hentinya
kami bahas didalam angkot hingga tiba distasiun purwokerto.
Menunggu
sekitar setengah jam, akhirnya kereta GBM tujuan pasar senen tiba, saat
kereta berhenti kami langsung berebut masuk kedalam gerbong, dan
ternyata kereta sudah penuh, bagasi tempat menaruh tas sudah terisi
semua, ajaibnya lagi bagasi yang seharusnya tempat untuk menaruh barang,
malah menjadi tempat tidur penumpang, tanpa rasa bersalah mereka tidur
dengan nyenyaknya, halooo!!! ini kereta bung! bukan hotel! hadeeehh...
dengan sangat terpaksa ceril ane taro dibawah kursi penumpang, dan
lagi-lagi kejutan terjadi, seorang bapak-bapak tidur dengan pulasnya
dibawah kursi penumpang,untuk beberapa saat ane berdiri sambil berfikir
gimana cara naro keril ini, tiba-tiba bapak-bapak yang tertidur dibawah
kursi itu terbangun, dan akhirnya pergi, hahahha!" akhirnya bisa naro
keril juga.
Dan enam jam
perjalanan pulang menuju jakarta,diisi dengan celotehan kami yang ngalor
ngidul, hingga kereta tiba dijakarta senin dini hari,dan petualangan pun
berakhir...
“salam ngebully”
Jamil,uti,ican,prista,iwan,mina,tia...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar