Powered By Blogger

"metamorfosis"

ingin menjadi seperti garam, yang apabila melebur bersama semangkok sayur, dia akan tetap asin, walaupun wujudnya sudah tdk terlihat.... (sok puitis ya gw) ws rendra bukan, apalagi chairil anwar, sabodo teuing lah... yach inilah gw, manusia sederhana yang mencoba untuk menjadi kaya,maksudnya kaya hati gan, kalo kaya harta ane belom nyampe kesitu, maklum,cuma karyawan rendahan, yang kalo makan siang larinya kerumah,,, pengen sich kaya yang laen gitu, tiap makan siang bisa duduk manis di resto telaga,atau sambil ketawa ketiwi di sari kuring sambil BBMan,nikmaaat!!! tapi gaji ane gak cukup gan buat makan disitu hiks hiks,,, lah! kenapa gw jadi curhat ya? tapi gak papa dech! kali-kali aja setelah membaca curhatan gw ada yang hatinya tergugah dan segera nraktir gw,ngarep dot.com (gw pernah berjanji buat gak pake nich joke) hahahaha akhirnya dipake juga, emang manusia gak ada yang konsisten dengan omongannya sendiri,hari ini dia ngomong A besok dia ngomong Z, termasuk gw juga sich... tapi kan manusia emang sarangnya salah dan dosa, sarangnya bohong, sarangnya munafik, sarangnya gombal, sarangnya... sarangnya... sarangnya.... waduuh, kalo dibeberin kejelekan manusia dari sabang sampe merauke,gak cukup layarnya gan, hihihi...

Kamis, 19 September 2013

prau, negeri diatas awan...

Jumat 13 sept 2013
Awalnya nggak sengaja buat ngesot kegunung ini, cuma chit chat digrup dan karena kebetulan untuk bulan ini belum ada plan, maka kita-kita sepakat buat jelajah ke prau, setelah hunting tiket dan akhirnya dapet juga untuk keberangkatan tanggal 13 september menumpang kereta tawang jaya, untuk petualangan kali ini ada delapan personel, empat cowok kece dan empat cewek manis namun rada sarap wkwkwkwk! Lima personil alumni rajabasa dan dua personil alumni sindoro, digrup cewek ada mina, cewek tomboy yang lebih seneng dibilang tampan, hoby bela diri dan memasak, ane masih meragukan apakah doi bener-bener cewek atau bukan hahahha,untunglah doi pake jilbab jadi sifat sangarnya sedikit tertutupi hihiihi, personil yang kedua adalah prista, cewek bekasi yang terobsesi ingin menggantikan riani jangkaru sebagai host dijejak petualang, namun sampe sekarang belum ada tawaran sama sekali, sabar eaa kakaa..! personil selanjutnya uti, cewek chuby yang hoby ngemal dan mantai, dan pengen banget gabung di grup band cherybelle, hingga rela mati-matian buat ikut nanjak agar langsing dan singset dan diterima digrup  yang chibi-chibi itu ,  dan personil terakhir di kelompok cewek ada tia, cewek berjilbab dengan kawat gigi yang begitu gahol, rada manja kadang pendiem, tapi sekali ngebully buat kuping panas!! . Untuk personil cowok, ada jamil saudagar power bank dan pemilik restoran padang “takana juo” yang sebentar lagi akan membuka cabang di zimbabwe,  lalu ada ican dan iwan new comers  digrup kami , yang akhirnya menemukan benih-benih cinta disisni ”
Oke! Perkenalan sudah cukup, dan kita sepakat meeting point point di stasiun senen jam sembilan malam, uti yang pertama hadir karena doi kebagian nuker tiket,disusul prista dan yang lainnya, dan ane personil terakhir yang dateng, saat dimana menit-menit terakhir kereta akan berangkat, fuihh” setelah pasukan lengkap dan kereta tawang jaya pun sudah nongol, tanpa basa-basi kita langsung menyerbu kedalam kereta, ane,uti,jamil dan ican kebagian di gerbong empat, sedangkan mina,prista,tia dan iwan ada digerbong enam, ruangan didalam gerbong lumayan dingin karena semua kereta ekonomi jarak jauh sudah dipasang ac semua, ditambah dibawah meja kecil dipasang terminal untuk mencarger hp, waduuhh,,, saya semakin cinta dengen kereta api sepertinya , tepat jam sepuluh lebih sepuluh petugas kereta memberi aba-aba agar kereta tawang jaya agar segera berangkat, dan perlahan kereta meninggalkan stasiun senen, tuuiiiiiiitttt..!!!
Sabtu 14 september 2013
stasiun weleri

Dini hari sekitar jam lima lewat tiga puluh, kereta yang kita tumpangi berhenti distasiun weleri, udara masih terasa segar, kabut tipis masih mengambang dan rona merah mulai memancar diufuk timur, masih ada waktu untuk sholat subuh sebelum sang fajar benar-benar terbit menyapa bumi, kelar sholat sambil memanggul keril dipunggung, akhirnya kita kelar dari stasiun, tujuan kami berikutnya adalah cari tempat pengganjal perut, dan persis di samping pasar penjual bubur ayam dengan gerobaknya siap kami borong hahaha, sebenarnya bubur ayamnya menurut ane sama sepeti bubur ayam pada umumnya, hanya berupa bubur putih dengan kuah dan suiran daging ayam dengan sedikit kacang, tapi bubur ini terasa nikmat, atau mungkin memang ane yang lapar? “  ok, urusan perut sudah beres, sambil menunggu personil cewek yang sedang beli logistik dipasar weleri, menghisap sebatang rokok sehabis makan emang nikmat, sekira jam delapan kita pun siap menuju wonosobo, dengan mencarter angkot yang pernah ane pake waktu kesindoro, dan untuk kali inipun sang sopir masih  mengajak cem-cemannya yang makin berubah drastis, rambut panjang tergerai, dengan warna merah mencolok, legging ketat menutup kakinya yang kecil, dan baju lengan pendek dan tetap dengan logat jawanya yang medok saat ngobrol dengan sang sopir yang sampe sekarang ane nggak tau nama itu sopir hahahahha...
Sekira jam sebelas siang, akhirnya kita tiba di basecap gunung prau, letaknya dibelakang balai desa patak banteng, setelah packing ulang dan registrasi dan membayar tiket masuk sebesar tiga ribu perak, pendakian ke prau pun akan segera kita mulai,hecieee....
sebelum memulai pendakian
bunga daisy sepanjang jalur pendakian
telaga warna dari kejauhan


Jalur pendakian diawali dengan memasuki perkampungan penduduk, untuk yang baru pertama kali kesini mungkin agak sedikit menyulitkan, karena kita harus melewati jalan-jalan kecil diantara rumah penduduk, selepas melewati sungai kecil dan beberapa anak tangga, jalanan berbatu akan menjadi jalur berikutnya, dibawahnya hamparan kebun sayuran aneka rupa sedikit memanjakan mata, selepas jalan berbatu kami berbelok kekiri dan kembali trek menanjak jadi santapan berikutnya, pemandangan masih berupa kebun sayuran yang belum siap dipanen, sepanjang jalur ini cantiknya bunga daisy mulai terlihat, tumbuh diantara rerumputan dan ilalang, menjelang azan zuhur kami tiba di pos tiga, istirahat diantara rimbunnya cemara, dari sini telaga warna jelas terlihat, warnanya yang hijau kebiruan nampak kecil antara perbukitan yang mengapitnya, puas beristirahat perjalanan dilanjutkan kembali, jalur menuju puncak semakin curam dan menanjak, vegetasi berubah menjadi semak belukar, dijalur ini ane sempat melihat rumpun edelweis walau Cuma beberapa dan cantigi yang warna khas daunnya yang merah tua,karena pendakian kami lakukan masih dimusim panas, sepanjang jalur tanah begitu berdebu, diselingi kabut yang tiba-tiba datang,membuat cuaca menjadi susah ditebak, dan akhirnya setelah melewati beberapa tanjakan curam dan sedikit bonus berupa dataran yang ditumbuhi hamparan bunga daisy, akhirnya kita tiba dipuncak prau, yeeaaa!!! Dan semua personil bersuka cita terutama uti yang sepanjang perjalanan menuju puncak  mukanya ditekuk tanpa ekspresi hahahha...
Puncak prau cukup luas, bisa untuk mendirikan puluhan tenda, saat kami tiba dipuncak, sudah ada beberapa tenda milik pendaki lain yang lebih dulu datang, dan ternyata prista sudah lebih dulu sampai, tendanya telah berdiri cantik, setelah mencari posisi yang tepat,akhirnya tenda ane berdiri dengan gagahnya , berdampingan dengan tenda prista dan ican,makin sore makin banyak pendaki yang berdatangan, lapak-lapak yang awalnya kosong kini telah dikavling oleh para pendaki, dan puncak prau begitu berwarna dengan tenda-tenda para pendaki.
Semakin sore udara makin menusuk, kabut putih memenuhi seluruh area puncak gunung, ini berakibat perut menjadi keroncongan, akhirnya kita buka logistik untuk memasak, kali ini mina bertindak sebagai kokinya, dan sore itu di temani rintik kabut yang tipis,sepiring nasi,sepotong tempe goreng dan sosis goreng jadi menu makan terlezat kita. 
masak-masak
Menjelang malam cuaca dipuncak prau masih tertutup putihnya kabut, rencana makrab sambil melihat cahaya bulan dan gemerlap bintang akhirnya kandas, karena kabut dan gerimis kecil masih setia hingga pertengahan malam, walhasil kami cukup ketawa ketiwi didalam tenda, hingga menjelang pagi ane nggak bisa tidur, karena terbangun oleh suara riuh dari para pendaki lain, malam itu puncak gunung prau mirip terminal, suara gaduh dari para pendaki mirip orkestra yang amburadul, teriakan,nyanyian,ngobrol ngalor ngidul, baru berhenti saat fajar menjelang.
Minggu 15 september 2013
Sunrise!!!! Sunrise!!! Begitu teriakan dari para pendaki, ane lirik jam sudah setengah enam, akhirnya keluar tenda bareng ican, sementara yang lain masih ngorok didalam tenda, terutama ditenda cewek,dimana suara dengkurannya begitu terasa, entah siapa yang ngorok??? Hahahhaha!!!” udara diluar masih dingin nyelekit, sendal yang ane pake terasa dingin, dan nampak dari arah timur, sang fajar mulai menyingsing, semburat jingga berpendar memenuhi langit, dan semua orang berteriak,Namun itu nggak bertahan lama, kabut putih kembali memainkan peranannnya, dan langit kembali gelap, dan akhirnya ane putuskan untuk kembali ketenda, sambil menunggu langit cerah kembali, akhirnya kami memasak untuk sarapan pagi, dan kembali koki kita minayang jadi andalan hehehe, karena siang nanti kita turun gunung maka sisa logistik kita habiskan, benar-benar sarapan yang mewah, ada capcai, spagheti, pangsit goreng semuanya enak-enak, saat seru-serunya kami memasak, dari arah timur sang mentari kembali berpijar, dan tanpa dikomando kamipun berhamburan menuju sisi puncak gunung prau, nggak peduli bahwa kami sedang masak hahahha, perlahan mentari mulai menampakan cahayanya yang keemasan, kabut putih yang awalnya menutupi langit berangsur sirna berganti dengan sinar mentari yang hangat,kilaunya memancar hingga menembus perbukitan yang ada disekitar kami, padang savana dengan ilalangnya sejenak berubah menjadi kuning keemasan, nun jauh ditimur sana, jejeran pegunungan berbaris indah, lawu,merapi,merbabu dan yang paling dekat sindoro sumbing begitu jelas terlihat, warnanya yang kebiruan nampak cantik dengan selimut awan putih yang membentuk seperti permadani besar didasarnya, Subhanallahu!!! Begitu besar karya sang Illahi, hingga untuk beberapa saat kami terpaku dengan pesona alam yang sungguh indah ini, namun keindahan itu tidak berlangsung lama, perlahan kabut putih kembali datang bergerombol,dan menutup keindahan yang ada didepan kami, beruntung momen yang yang hanya berlangsung lima menit tersebut sudah ane simpan dikamera pocket ane hehehhe....
sunrise yang menawan
subhanallahu!!!
 

 
narsis sebelum turun

Dan akhirnya petualangan kita ke negeri diatas awan berakhir juga, siang itu setelah sarapan dan packing, kita meninggalakan puncak prau, sebelum turun kami mengabadikan momen-momen dimana langit kembali cerah, perjalanan turun lebih terasa cepat, sebelum zuhur kami sudah tiba dibase camp patak banteng, kami singgah sebentar disebuah rumah penduduk yang menjual carica, buah khas daerah wonosobo, sambil menunggu personil yang lain bersih-bersih rehat sebentar sambil menikmati manisan carica memang aziib!”.
Selepas zuhur perjalanan kami lanjutkan kedieng, karena jadwal kereta pulang nanti berangkat jam delapan malam, jadi masih ada waktu sekitar empat jam untuk menikmati keindahan dieng, dan tempat pertama yang kami tuju adalah candi arjuna, sebuah komplek candi hindu yang beberapa bangunannya masih berdiri kokoh dan sebagian hanya tinggal reruntuhannya saja,dipintu masuk sekelompok pengamen jalanan mendendangkan lagu-lagu yang kurang begitu jelas, halaman candi cukup luas ditumbuhi rerumputan hijau dan cukup bersih,diselingi kabut yang menyelimuti kawasan candi,beerapa bagian candi menjadi samar terlihat,  puas bernarsis ria perjalanan kami lanjutkan ke kawah sikidang, jaraknya sekitar sepuluh menit dari komplek candi arjuna, saat turun dari mobil beberapa pedagang masker berhamburan ke arah kami sambil menawarkan masker, dua ribu perak untuk satu masker, sekitar seratus meter dari arah pintu masuk kawah, aroma belerang begitu menyengat!, aroma khas belerang seperti bau kentut, kami nggak berlama-lama disini, hanya melihat sebentar dan ane berfikir kawah sikidang mirip seperti kawah belerang dipapandayan.
candi arjuna
makan mie ongklok
Menjelang sore petualangan kami ditutup dengan menyantap mie ongklok, warung mie yang berada diperbatasan antara wonosobo dan banjarnegara ini cukup ramai, semangkok mie ongklok dan seporsi sate sapi ludes tak bersisa!” kecuali irisan kolnya karena ane memang gak suka, dan petualangan tiga hari ke negeri diatas awan akhirnya berakhir, angkot yang kami tumpangi melipir menuju purwokerto, dan seribu cerita manis tentang negeri di atas awan tak hentinya kami bahas didalam angkot hingga tiba distasiun purwokerto.
Menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kereta GBM tujuan pasar senen tiba, saat kereta berhenti kami langsung berebut masuk kedalam gerbong, dan ternyata kereta sudah penuh, bagasi tempat menaruh tas sudah terisi semua, ajaibnya lagi bagasi yang seharusnya tempat untuk menaruh barang, malah menjadi tempat tidur penumpang, tanpa rasa bersalah mereka tidur dengan nyenyaknya, halooo!!! ini kereta  bung! bukan hotel! hadeeehh... dengan sangat terpaksa ceril ane taro dibawah kursi penumpang, dan lagi-lagi  kejutan terjadi, seorang bapak-bapak tidur dengan pulasnya dibawah kursi penumpang,untuk beberapa saat ane berdiri sambil berfikir gimana cara naro keril ini, tiba-tiba bapak-bapak yang tertidur dibawah kursi itu terbangun, dan akhirnya pergi, hahahha!" akhirnya bisa naro keril juga.

Dan enam jam perjalanan pulang menuju jakarta,diisi dengan celotehan kami yang ngalor ngidul, hingga kereta tiba dijakarta senin dini hari,dan petualangan pun berakhir...
“salam ngebully”
Jamil,uti,ican,prista,iwan,mina,tia...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar