 |
| gunung karang |
 |
| futu dulu sebelum nanjak |
Sabtu 29 juni 2013
Setelah hampir dua bulan
selalu gagal, akhirnya pendakian kegunung karang terlaksana juga, sabtu 29 juni
2013 disepakati untuk tanggal
keberangkatan, meeting point di stasiun rangkas jam tujuh malem, dari serpong
ane berdua dengan ihsan, sementara dari jakarta ada sofi and the gank, seperti
biasa setiap ngetrip kemanapun BSD junction jadi tempat parkir terindah buat
ane, dengan tarif tiga ribu perak kita bisa parkir berhari-hari tanpa biaya tambahan , sambil nunggu ihsan yang lg otw, makan siomay disore hari yang mendung
memang nikmat, setelah pasukan komplit (padahal Cuma berdua hahhaaha), bergegas
kami menuju stasiun serpong dengan menyetop angkot , jalanan cukup lancar hingga setengah jam sebelum
kereta berangkat kita sudah tiba, setelah mendapat tiket seharga empat ribu
perak, kami sempatkan untuk membeli logistik disebuah minimarket yang punya
slogan “mudah dan hemat” karena ini pendakian tektok ane Cuma beli sebotol air
mineral ukuran 1600 ml, lima bungkus wafer cokelat dan sebungkus roti sobek.
Jam setengah enam maghrib
akhirnya kereta rangkas jaya tiba juga di stasiun serpong, dari speaker stasiun
seorang petugas bercuap-cuap dengan lantang agar para para penumpang sedikit
menjauh dari peron, kereta bercat kuning gading yang sudah kusam ini penuh
dijejali orang, untuk masuk pun ane harus bersusah payah saling gencet dan
saling dorongpun tak terelakan,untungnya ane Cuma bawa daypack yang isinya Cuma
jas ujan sama sarung hahha, bagaimana kalau kulkas dua pintu yang dibawa?
 |
| stasiun rangkasbitung |
Kurang lebih satu jam di
gerbong yang pengap diantara aroma ketek,bercampur aroma parfum gocengan,
akhirnya tiba juga distasiun rangkasbitung, langsung cari toilet yang ada di
sebelah kiri stasiun, sambil menunggu pasukan dari jakarta ane dan ihsan
nyempetin buat sholat maghrib dimushola yang letaknya menyatu dengan toilet,
menunggu hampir dua jam diruang ruang tunggu adalah hal yang membosankan, gak
ada yang bisa dilihat,disekitar stasiun Cuma ada beberapa orang yang sedang
duduk dikursi tunggu, semua loket tertutup dengan kain berwarna hijau dekil,
persis didepan stasiun penjaja buah menyusun dagangannya diantara
keranjang-keranjang besar, dan gak jauh dari situ seorang ibu tua penjual nasi
menggelar dagangannya di antara jejeran motor para pengojek, rasa lapar yang
belum terlalu sampe ke perut mengurungkan niat ane untuk sekedar mencicipi
masakan si ibu tersebut.
Jarum jam persis menunjukan
jam setengah sembilan malam, dan kereta yang ditumpangi sofi and the genk pun
tiba, peluit panjang dari petugas stasiun membuat kereta berhenti perlahan,
dari tiap gerbong kereta muka-muka yang penuh kelelahan mambaur keluar, untuk
beberapa saat stasiun seperti pasar malam, suara mesin kereta berpadu dengan
celoteh para penumpang,entah apa yang mereka omongin, dan akhirnya ane melihat
sesosok penumpang dengan carriernya celingak celinguk seperti mencari sesuatu, ane
udah menduga itu sofi karena di belakang dia sepasukan manusia bercarier setia
ngebuntutin hahahha... sedikit basa-basi dan perkenalan ada kang didit,marcel
Dan mas budi, perjalananpun dilanjut
menuju pandeglang,
Karena hari sudah malam dan
kita harus naik angkutan dua kali, maka kita putuskan untuk sewa angkot, seratus
ribu untuk enam orang, perjalanan dari rangkas menuju pandeglang sekitar satu
jam, melewati jalan raya pandeglang –
labuan, kondisi jalan cukup bagus, namun kurang didukung dengan penerangan yang
memadai.
Satu jam berlalu akhirnya
kami tiba juga di perempatan kadomas, ane kurang tahu ini sebuah desa atau
kecamatan, disebelah kiri jalan ada sebuah minimarket yang masih buka, tidak
jauh dari minimarket pedagang pecel lele masih setia menunggu pembeli, tanpa pikir
panjang akhirnya kita menyerbu warung pecel lele tersebut sambil menunggu dua
teman kami yuda dan kuya sebagai tuan rumah datang, upsss! Hampir lupa, untuk
pendakian kali ini terselip cewek paling cantik bernama aci yang berangkat dari
serang, saat sedang makan tiba-tiba datang dua pemuda yang ternyata yuda dan
kuya, karena memang sebelumnya ane belum sempat mengenal mereka, hanya lewat
grup di jejaring sosial, sesi makan dan perkenalanpun kelar, tinggal menunggu
aci yang masih dalam perjalanan, akhirnya kita putuskan untuk duluan kerumah
yuda, jarak rumah yuda hanya sekitar seratus meter dari perempatan, berada
disebelah kanan jalan sedikit masuk kedalam, didepan rumah kami disambut
bapaknya yuda,dan mempersilahkan kami untuk masuk kedalam, yupss!, untuk malam
ini kita akan bermalam dirumah yuda, karena pendakian akan dilakukan pagi hari,
menunggu malam kami hanya ngobrol ngalor ngidul diruang tamu, ditemani satu
termos air panas dan kopi shacetan yang begitu banyak dinampan dan beberapa
bungkus biskuit, tengah malam karena mulai lelah satu persatu personil mulai
rebahan diikuti yang lain hingga akhirnya semua tewas.
Minggu, 30 juni 2013
Udara dingin membangunkan
kami dari tidur nyenyak semalam, pantes semalem dingin sekali, ternyata pintu
depan rumah gak ditutup sampai pagi,
setelah sholat subuh dan beres-beres kami bersiap untuk menuju desa pager batu,
desa terakhir dikaki gunung karang, dan sebelum memulai perjalanan
kami sempatkan sarapan nasi uduk yang dijual persis didepan rumah yuda,
perut udah kenyang,mobil yang kami sewa untuk membawa kamipun sudah
siap,setelah pamitan dengan keluarga yuda dan memastikan gak ada yang
ketinggalan, sang angkot pun tancap gas menuju desa pager batu.
Perjalanan menuju desa pager
batu sekitar setengah jam, saat memasuki desa, jalan yang awalnya beraspal
mulus berubah menjadi jalan berbatu di kiri kanan jalan deretan rumah penduduk
seakan menyambut kami “lebay” semakin keatas jalan semakin terjal, dan akhirnya
angkot sewaan kami berhenti didepan sebuah mushola, dan disinilah pendakian
dimulai, sebelumnya kami harus melapor dulu, dan dipastikan tidak ada biaya
untuk masuk ke gunung karang.
Diawal perjalanan
rumah-rumah penduduk masih mendominasi diselingi pohon-pohon berbuah musiman,dengan
jalan berkerikil dan semakin menanjak, mungkin karena hari minggu selalu ada anak-anak kecil yang sedang bermain
diantara rumah-rumah berdinding bilik dan papan, Banten yang katanya kaya,
ternyata kekayaan sumber daya alamnya
hanya segelintir orang yang menikmatinya,entah
berapa banyak desa-desa dibanten yang mungkin kondisinya seperti desa pager
batu, miris!
 |
| kumpul bocah di desa pager batu |
 |
| bermain, desa pager batu |
 |
| jalan berkerikil |
Satu jam selepas melewati
rumah-rumah penduduk,jalur pendakian mulai berubah menjadi ladang perkebunan,
disisi kanan dan kiri jalan banyak ditumbuhi pohon cokelat,cengkeh, melinjo,
hingga akhirnya kita menemukan gubuk yang sudah kosong, setelah istirahat
sebentar perjalanan dilanjutkan kembali, kali ini trek semakin sulit, jalan
yang sempit ditambah tanah merah yang basah membuat jalan agak licin, ditengah
perjalanan kembali ane menemukan pondok kecil, dengan seorang bapak tua, dan
setelah dapet info ternyata bapak tua tersebut adalah cucu dari orang yang telah meninggal yang
dikeramatkan digunung karang ini.
 |
| lembah |
 |
| jurang |
 |
| ada warung di atas gunung |
Matahari semakin tinggi,
vegetasi jalur yang awalnya perkebunan
berubah menjadi hutan tropis yang lebat, disebelah kanan punggungan gunung
nampak berselimut pohon-pohon besar, dan beberapa kali kami menemui pohon-pohon
yang tumbang, dan sedikit menghalangi jalur pendakian, dan sekali lagi kami
menemukan gubuk, dan ternyata ada yang berjualan disini, seorang ibu setengah
baya dengan kedua anaknya, gak banyak yang mereka jual, hanya ada serenceng
kopi yang digantung, beberapa bungkus biskuit dan mie instan, kami lumayan
beristirahat lama disini, sambil menungu sofi dan aci yang makan mie rebus,.
Jalur selanjutnya masih
berupa hutan lebat, diselingi jurang-jurang yang yang tertutup rimbunnya hutan,
baju yang ane pake sudah basah oleh keringet, ada beberapa tanjakan yang
lumayan curam, kami harus berpegangan diantara akar-akar dan batang pohon,
hingga akhirnya dari kejauhan sebuah pondok nampak samar terlihat, dan ternyata
kita sudah sampai, aahhh.... lega rasanya, ternyata kami bukan orang pertama
yang datang, sudah ada beberapa orang lebih dulu dateng, ada sepasang suami
istri yang sepertinya habis mandi, suaminya sempat menyapa kami, tapi istrinya
sepertinya kurang bersahabat, dan disinipun ada juga yang berjualan, dengan
kondisi jualannya sama dengan ibu-ibu yang kami temui dibawah, didepan pondok
ada sebuah pancuran kecil yang airnya dingin, disebelah kanan dari pancuran ada
sebuah kolam yang dikeramatkan, luas kolamnya sekitar satu kali stengah meter,
dengan ditutupi terpal biru, dan ternyata sebagian orang yang naik ke gunung
karang mereka memang punya niat khusus, untuk mandi dikolam kecil ini seseorang
harus memakai kain putih, agak sedikit keatas ada sebuah mushola kecil yang
terbuat dari kayu, dan sepertinya mushola ini jarang digunakan, suasana
lembabnya begitu terasa, dan kayu-kayunya pun mulai rapuh dimakan usia, ada yang
menarik perhatian ane, diatas pohon ada sebuah kain putih yang di ikat
memanjang, dan terlihat kaligrafi arab menghias dikain putih tersebut, entah
apa fungsi kain tersebut.
 |
| mushola yang jarang digunain |
 |
| sumur keramat |
|
Selepas sholat zuhur
perjalanan kami lanjutkan menuju puncak, karena ternyata tempat dimana pondok
ini berada bukanlah puncak dari gunung karang, masih sekitar seratus meter lagi
untuk sampai dipuncaknya, jalur untuk menuju puncak masih begitu rapat, karena
memang jarang sekali orang yang sampai ke puncak, kang tony yang menemani
kamipun sempat salah jalur, sampai kami bertemu dengan seoarang bapak2 yang
sedang mencari kayu lemo, anepun gak tau kayu lemo itu seperti apa, konon kayu
tersebut bisa untuk penangkal entah penangkal apa.
Setengah jam yang lumayan melelahkan,
setelah mendapat siksaan dari pohon duri yang ngebaretin kaki, dan serangan
pacet yang menghisap darah tanpa permisi, akhirnya kami sampai juga di puncak
gunung karang, jangan bayangkan puncak gunung karang seperti puncak cikuray
dengan lautan awannya, atau puncak mahameru dengan kepulan jonggring selokanya
hehhehe, puncak gunung karang hanya sebuah dataran yang rimbun tertutup
tajuk-tajuk pohon, susananya begitu lembab, ditengahnya ada sebuah cekungan
yang mirip kolam kecil, namun dalam kondisi kering, kami tidak berlama-lama
disini, sedikit mengabadikan momen kalau kita sudah sampai puncak,.
 |
| pacet oh pacet |
 |
| rimba karang |
 |
| puncak gunung karang |
 |
| belepotan lumpur |
Jam setengah dua kurang kami mulai
turun, butuh waktu sekitar tiga setengah jam untuk sampai di rumah kang tony,
kondisi jalur pada saat turun ternyata lebih parah, karena habis hujan jalur
menjadi licin, beberapa teman menjadi korban dijalur tanah merah, ada yang
terjungkal,terpeleset, hingga harus maen perosotan hahahha...
Sekitar jam lima sore akhirnya kami tiba
dirumah kang tony, rumah panggung berdinding papan yang cukup nyaman untuk
meluruskan otot kaki yang kram ini, dari dalam rumah seorang perempuan setengah
baya membawa setoples rengginang dan emping goreng, ditambah segelas teh manis
hangat menjadi obat penawar lelah yang nikmat.
 |
| setoples emping dan rengginang |
 |
| ican yang lapar |
Selepas maghrib akhirnya kami
meninggalkan desa pager batu yang bersahaja ini, dengan meninggalkan sejuta
cerita tentang desa yang penduduknya begitu ramah, tentang gunung karang yang
begitu kental dengan mitos, dan tentang teman-teman baru yang menyenagkan,waktu
sehari rasanya begitu cepat, hingga akhirnya kita harus berpisah dengan membawa
secuil kenangan bernama “gunung karang”.
 |
| sebelum meninggalkan desa pager batu |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar