Powered By Blogger

"metamorfosis"

ingin menjadi seperti garam, yang apabila melebur bersama semangkok sayur, dia akan tetap asin, walaupun wujudnya sudah tdk terlihat.... (sok puitis ya gw) ws rendra bukan, apalagi chairil anwar, sabodo teuing lah... yach inilah gw, manusia sederhana yang mencoba untuk menjadi kaya,maksudnya kaya hati gan, kalo kaya harta ane belom nyampe kesitu, maklum,cuma karyawan rendahan, yang kalo makan siang larinya kerumah,,, pengen sich kaya yang laen gitu, tiap makan siang bisa duduk manis di resto telaga,atau sambil ketawa ketiwi di sari kuring sambil BBMan,nikmaaat!!! tapi gaji ane gak cukup gan buat makan disitu hiks hiks,,, lah! kenapa gw jadi curhat ya? tapi gak papa dech! kali-kali aja setelah membaca curhatan gw ada yang hatinya tergugah dan segera nraktir gw,ngarep dot.com (gw pernah berjanji buat gak pake nich joke) hahahaha akhirnya dipake juga, emang manusia gak ada yang konsisten dengan omongannya sendiri,hari ini dia ngomong A besok dia ngomong Z, termasuk gw juga sich... tapi kan manusia emang sarangnya salah dan dosa, sarangnya bohong, sarangnya munafik, sarangnya gombal, sarangnya... sarangnya... sarangnya.... waduuh, kalo dibeberin kejelekan manusia dari sabang sampe merauke,gak cukup layarnya gan, hihihi...

Kamis, 04 Juli 2013

"gunung karang" antara mitos, kesederhanaan hidup dan lebatnya hutan

gunung karang

 
futu dulu sebelum nanjak

Sabtu 29 juni 2013
Setelah hampir dua bulan selalu gagal, akhirnya pendakian kegunung karang terlaksana juga, sabtu 29 juni 2013  disepakati untuk tanggal keberangkatan, meeting point di stasiun rangkas jam tujuh malem, dari serpong ane berdua dengan ihsan, sementara dari jakarta ada sofi and the gank, seperti biasa setiap ngetrip kemanapun BSD junction jadi tempat parkir terindah buat ane, dengan tarif tiga ribu perak kita bisa parkir berhari-hari tanpa biaya tambahan  , sambil nunggu ihsan yang lg otw, makan siomay disore hari yang mendung memang nikmat, setelah pasukan komplit (padahal Cuma berdua hahhaaha), bergegas kami menuju stasiun serpong dengan menyetop angkot , jalanan cukup lancar hingga setengah jam sebelum kereta berangkat kita sudah tiba, setelah mendapat tiket seharga empat ribu perak, kami sempatkan untuk membeli logistik disebuah minimarket yang punya slogan “mudah dan hemat” karena ini pendakian tektok ane Cuma beli sebotol air mineral ukuran 1600 ml, lima bungkus wafer cokelat dan sebungkus roti sobek.
Jam setengah enam maghrib akhirnya kereta rangkas jaya tiba juga di stasiun serpong, dari speaker stasiun seorang petugas bercuap-cuap dengan lantang agar para para penumpang sedikit menjauh dari peron, kereta bercat kuning gading yang sudah kusam ini penuh dijejali orang, untuk masuk pun ane harus bersusah payah saling gencet dan saling dorongpun tak terelakan,untungnya ane Cuma bawa daypack yang isinya Cuma jas ujan sama sarung hahha, bagaimana kalau kulkas dua pintu yang dibawa? 
stasiun rangkasbitung

Kurang lebih satu jam di gerbong yang pengap diantara aroma ketek,bercampur aroma parfum gocengan, akhirnya tiba juga distasiun rangkasbitung, langsung cari toilet yang ada di sebelah kiri stasiun, sambil menunggu pasukan dari jakarta ane dan ihsan nyempetin buat sholat maghrib dimushola yang letaknya menyatu dengan toilet, menunggu hampir dua jam diruang ruang tunggu adalah hal yang membosankan, gak ada yang bisa dilihat,disekitar stasiun Cuma ada beberapa orang yang sedang duduk dikursi tunggu, semua loket tertutup dengan kain berwarna hijau dekil, persis didepan stasiun penjaja buah menyusun dagangannya diantara keranjang-keranjang besar, dan gak jauh dari situ seorang ibu tua penjual nasi menggelar dagangannya di antara jejeran motor para pengojek, rasa lapar yang belum terlalu sampe ke perut mengurungkan niat ane untuk sekedar mencicipi masakan si ibu tersebut.
Jarum jam persis menunjukan jam setengah sembilan malam, dan kereta yang ditumpangi sofi and the genk pun tiba, peluit panjang dari petugas stasiun membuat kereta berhenti perlahan, dari tiap gerbong kereta muka-muka yang penuh kelelahan mambaur keluar, untuk beberapa saat stasiun seperti pasar malam, suara mesin kereta berpadu dengan celoteh para penumpang,entah apa yang mereka omongin, dan akhirnya ane melihat sesosok penumpang dengan carriernya celingak celinguk seperti mencari sesuatu, ane udah menduga itu sofi karena di belakang dia sepasukan manusia bercarier setia ngebuntutin hahahha... sedikit basa-basi dan perkenalan ada kang didit,marcel Dan  mas budi, perjalananpun dilanjut menuju pandeglang,
Karena hari sudah malam dan kita harus naik angkutan dua kali, maka kita putuskan untuk sewa angkot, seratus ribu untuk enam orang, perjalanan dari rangkas menuju pandeglang sekitar satu jam, melewati  jalan raya pandeglang – labuan, kondisi jalan cukup bagus, namun kurang didukung dengan penerangan yang memadai.
Satu jam berlalu akhirnya kami tiba juga di perempatan kadomas, ane kurang tahu ini sebuah desa atau kecamatan, disebelah kiri jalan ada sebuah minimarket yang masih buka, tidak jauh dari minimarket pedagang pecel lele masih setia menunggu pembeli, tanpa pikir panjang akhirnya kita menyerbu warung pecel lele tersebut sambil menunggu dua teman kami yuda dan kuya sebagai tuan rumah datang, upsss! Hampir lupa, untuk pendakian kali ini terselip cewek paling cantik bernama aci yang berangkat dari serang, saat sedang makan tiba-tiba datang dua pemuda yang ternyata yuda dan kuya, karena memang sebelumnya ane belum sempat mengenal mereka, hanya lewat grup di jejaring sosial, sesi makan dan perkenalanpun kelar, tinggal menunggu aci yang masih dalam perjalanan, akhirnya kita putuskan untuk duluan kerumah yuda, jarak rumah yuda hanya sekitar seratus meter dari perempatan, berada disebelah kanan jalan sedikit masuk kedalam, didepan rumah kami disambut bapaknya yuda,dan mempersilahkan kami untuk masuk kedalam, yupss!, untuk malam ini kita akan bermalam dirumah yuda, karena pendakian akan dilakukan pagi hari, menunggu malam kami hanya ngobrol ngalor ngidul diruang tamu, ditemani satu termos air panas dan kopi shacetan yang begitu banyak dinampan dan beberapa bungkus biskuit, tengah malam karena mulai lelah satu persatu personil mulai rebahan diikuti yang lain hingga akhirnya semua tewas.
Minggu, 30 juni 2013
Udara dingin membangunkan kami dari tidur nyenyak semalam, pantes semalem dingin sekali, ternyata pintu depan rumah gak ditutup sampai  pagi, setelah sholat subuh dan beres-beres kami bersiap untuk menuju desa pager batu, desa terakhir dikaki gunung karang, dan sebelum memulai  perjalanan  kami sempatkan sarapan nasi uduk yang dijual persis didepan rumah yuda, perut udah kenyang,mobil yang kami sewa untuk membawa kamipun sudah siap,setelah pamitan dengan keluarga yuda dan memastikan gak ada yang ketinggalan, sang angkot pun tancap gas menuju desa pager batu.
Perjalanan menuju desa pager batu sekitar setengah jam, saat memasuki desa, jalan yang awalnya beraspal mulus berubah menjadi jalan berbatu di kiri kanan jalan deretan rumah penduduk seakan menyambut kami “lebay” semakin keatas jalan semakin terjal, dan akhirnya angkot sewaan kami berhenti didepan sebuah mushola, dan disinilah pendakian dimulai, sebelumnya kami harus melapor dulu, dan dipastikan tidak ada biaya untuk masuk ke gunung karang.
Diawal perjalanan rumah-rumah penduduk masih mendominasi diselingi pohon-pohon berbuah musiman,dengan jalan berkerikil dan semakin menanjak, mungkin karena hari minggu  selalu ada anak-anak kecil yang sedang bermain diantara rumah-rumah berdinding bilik dan papan, Banten yang katanya kaya, ternyata kekayaan sumber daya alamnya  hanya segelintir orang yang  menikmatinya,entah berapa banyak desa-desa dibanten yang mungkin kondisinya seperti desa pager batu, miris! 
kumpul bocah di desa pager batu
bermain, desa pager batu
jalan berkerikil


Satu jam selepas melewati rumah-rumah penduduk,jalur pendakian mulai berubah menjadi ladang perkebunan, disisi kanan dan kiri jalan banyak ditumbuhi pohon cokelat,cengkeh, melinjo, hingga akhirnya kita menemukan gubuk yang sudah kosong, setelah istirahat sebentar perjalanan dilanjutkan kembali, kali ini trek semakin sulit, jalan yang sempit ditambah tanah merah yang basah membuat jalan agak licin, ditengah perjalanan kembali ane menemukan pondok kecil, dengan seorang bapak tua, dan setelah dapet info ternyata bapak tua tersebut adalah cucu dari orang  yang telah meninggal yang dikeramatkan digunung karang ini.
lembah
 
jurang
ada warung di atas gunung

Matahari semakin tinggi, vegetasi  jalur yang awalnya perkebunan berubah menjadi hutan tropis yang lebat, disebelah kanan punggungan gunung nampak berselimut pohon-pohon besar, dan beberapa kali kami menemui pohon-pohon yang tumbang, dan sedikit menghalangi jalur pendakian, dan sekali lagi kami menemukan gubuk, dan ternyata ada yang berjualan disini, seorang ibu setengah baya dengan kedua anaknya, gak banyak yang mereka jual, hanya ada serenceng kopi yang digantung, beberapa bungkus biskuit dan mie instan, kami lumayan beristirahat lama disini, sambil menungu sofi dan aci yang makan mie rebus,.
Jalur selanjutnya masih berupa hutan lebat, diselingi jurang-jurang yang yang tertutup rimbunnya hutan, baju yang ane pake sudah basah oleh keringet, ada beberapa tanjakan yang lumayan curam, kami harus berpegangan diantara akar-akar dan batang pohon, hingga akhirnya dari kejauhan sebuah pondok nampak samar terlihat, dan ternyata kita sudah sampai, aahhh.... lega rasanya, ternyata kami bukan orang pertama yang datang, sudah ada beberapa orang lebih dulu dateng, ada sepasang suami istri yang sepertinya habis mandi, suaminya sempat menyapa kami, tapi istrinya sepertinya kurang bersahabat, dan disinipun ada juga yang berjualan, dengan kondisi jualannya sama dengan ibu-ibu yang kami temui dibawah, didepan pondok ada sebuah pancuran kecil yang airnya dingin, disebelah kanan dari pancuran ada sebuah kolam yang dikeramatkan, luas kolamnya sekitar satu kali stengah meter, dengan ditutupi terpal biru, dan ternyata sebagian orang yang naik ke gunung karang mereka memang punya niat khusus, untuk mandi dikolam kecil ini seseorang harus memakai kain putih, agak sedikit keatas ada sebuah mushola kecil yang terbuat dari kayu, dan sepertinya mushola ini jarang digunakan, suasana lembabnya begitu terasa, dan kayu-kayunya pun mulai rapuh dimakan usia, ada yang menarik perhatian ane, diatas pohon ada sebuah kain putih yang di ikat memanjang, dan terlihat kaligrafi arab menghias dikain putih tersebut, entah apa fungsi kain tersebut.
mushola yang jarang digunain
 
sumur keramat

Selepas sholat zuhur perjalanan kami lanjutkan menuju puncak, karena ternyata tempat dimana pondok ini berada bukanlah puncak dari gunung karang, masih sekitar seratus meter lagi untuk sampai dipuncaknya, jalur untuk menuju puncak masih begitu rapat, karena memang jarang sekali orang yang sampai ke puncak, kang tony yang menemani kamipun sempat salah jalur, sampai kami bertemu dengan seoarang bapak2 yang sedang mencari kayu lemo, anepun gak tau kayu lemo itu seperti apa, konon kayu tersebut bisa untuk penangkal entah penangkal apa.
Setengah jam yang lumayan melelahkan, setelah mendapat siksaan dari pohon duri yang ngebaretin kaki, dan serangan pacet yang menghisap darah tanpa permisi, akhirnya kami sampai juga di puncak gunung karang, jangan bayangkan puncak gunung karang seperti puncak cikuray dengan lautan awannya, atau puncak mahameru dengan kepulan jonggring selokanya hehhehe, puncak gunung karang hanya sebuah dataran yang rimbun tertutup tajuk-tajuk pohon, susananya begitu lembab, ditengahnya ada sebuah cekungan yang mirip kolam kecil, namun dalam kondisi kering, kami tidak berlama-lama disini, sedikit mengabadikan momen kalau kita sudah sampai puncak,.
pacet oh pacet

rimba karang
 
puncak gunung karang
 
belepotan lumpur

Jam setengah dua kurang kami mulai turun, butuh waktu sekitar tiga setengah jam untuk sampai di rumah kang tony, kondisi jalur pada saat turun ternyata lebih parah, karena habis hujan jalur menjadi licin, beberapa teman menjadi korban dijalur tanah merah, ada yang terjungkal,terpeleset, hingga harus maen perosotan hahahha...
Sekitar jam lima sore akhirnya kami tiba dirumah kang tony, rumah panggung berdinding papan yang cukup nyaman untuk meluruskan otot kaki yang kram ini, dari dalam rumah seorang perempuan setengah baya membawa setoples rengginang dan emping goreng, ditambah segelas teh manis hangat menjadi obat penawar lelah yang nikmat.
setoples emping dan rengginang
 
ican yang lapar
Selepas maghrib akhirnya kami meninggalkan desa pager batu yang bersahaja ini, dengan meninggalkan sejuta cerita tentang desa yang penduduknya begitu ramah, tentang gunung karang yang begitu kental dengan mitos, dan tentang teman-teman baru yang menyenagkan,waktu sehari rasanya begitu cepat, hingga akhirnya kita harus berpisah dengan membawa secuil kenangan bernama “gunung karang”.

sebelum meninggalkan desa pager batu

                                                                       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar