Minggu 30 mei 2010 gw dan ketiga temen gw berencana pergi ke pemandian air panas tirta buana yang berlokasi di kecamatan cipanas lebak provinsi banten,kalau bicara cipanas mungkin orang lebih familiar dengan daerah puncak,tempat wisata yang cukup populer untuk sebagian masyarakat jakarta,ternyata di banten pun ada daerah yang bernama cipanas,letaknya di perbatasan antara kabupaten bogor dan lebak.
Tepat jam sembilan lebih sedikit,dengan mengendarai sepeda motor meluncurlah kami ditemani sinar mentari yang mulai memanas,karena ini perjalanan pertama kami kesana,agar tidak kesasar kami memilih rute yang agak jauh,yaitu melalui bogor...
Dari serpong kami menyusuri jalan provinsi yang menghubungkan tangerang dengan bogor,sesampai di perempatan prumpung kami mengambil jalan lurus hingga simpang empat ciseeng,dari sini motor berbelok ke arah kiri menuju arah ciampea,jalan yang kami lalui lumayan mulus,walaupun kadang ada beberapa titik yang berlubang tapi tidak terlalu parah,sesampai dipertigaan kami berbelok ke kiri ke arah ciampea,sebenarnya mengambil jalur kanan pun bisa melalui rumpin,tetapi jalannya jelek dan berdebu.
beberapa ratus meter setelah pertigaan jalan masih mulus bercor beton,tapi sekitar dua kilo stelah itu jalan hancur lebur tepatnya di desa karihkil,perut seperti dikocok-kocok...
untung matahari sedang terik,hingga jalan kering walau agak berdebu,bisa dibayangkan saat musim hujan tiba,bisa dipastikan sepanjang jalan ini bagai kubangan lumpur!!!
sekitar lima kilo menuju pertigaan bantar kambing jalanan agak sedikit mulus, dan akhirnya sampailah kami di simpang tiga bantar kambing,dan terbebas dari jalan rusak yang mengocok perut itu.
Lepas dari simpang tiga bantar kambing,motor kami belokan ke arah kanan menuju ciampea dan melewati pasar ciampea yang lumayan macet,kemacetan ini disebabkan ulah sopir angkot yang ngetem sembarangan,untunglah kemacetan tidak berlangsung lama.
setelah melewati pasar dan terminal ciampea , motor kami belokan ke kanan menuju leuwiliang,jalan cukup mulus dan lebar hingga tidak terasa pasar leuwiliang telah kami lewati,jalanan pun semakin lengang,pantat mulai terasa pegel,kami pun istirahat dibawah naungan pohon akasia yang mulai meranggas akibat kepanasan,sambil menikmati es buah yang di jual persis di samping kami,di depan kami petak-petak sawah yang menghijau nampak seperti permadani yang sedang dijemur...
Lima belas menit menikmati alam yang begitu indah,perjalanan kami lanjutkan menuju jasinga,kiri kanan jalan hanya terlihat rumah - rumah penduduk yang masih jarang diselingi sawah yang berpetak-petak milik penduduk setempat,semakin mendekati jasinga jalan semakin menanjak dan berkelok,didepan kami hamparan perbukitan yang masuk taman nasional halimun salak begitu indah terlihat....
BERSAMBUNG...
"metamorfosis"
ingin menjadi seperti garam, yang apabila melebur bersama semangkok sayur, dia akan tetap asin, walaupun wujudnya sudah tdk terlihat.... (sok puitis ya gw) ws rendra bukan, apalagi chairil anwar, sabodo teuing lah... yach inilah gw, manusia sederhana yang mencoba untuk menjadi kaya,maksudnya kaya hati gan, kalo kaya harta ane belom nyampe kesitu, maklum,cuma karyawan rendahan, yang kalo makan siang larinya kerumah,,, pengen sich kaya yang laen gitu, tiap makan siang bisa duduk manis di resto telaga,atau sambil ketawa ketiwi di sari kuring sambil BBMan,nikmaaat!!! tapi gaji ane gak cukup gan buat makan disitu hiks hiks,,, lah! kenapa gw jadi curhat ya? tapi gak papa dech! kali-kali aja setelah membaca curhatan gw ada yang hatinya tergugah dan segera nraktir gw,ngarep dot.com (gw pernah berjanji buat gak pake nich joke) hahahaha akhirnya dipake juga, emang manusia gak ada yang konsisten dengan omongannya sendiri,hari ini dia ngomong A besok dia ngomong Z, termasuk gw juga sich... tapi kan manusia emang sarangnya salah dan dosa, sarangnya bohong, sarangnya munafik, sarangnya gombal, sarangnya... sarangnya... sarangnya.... waduuh, kalo dibeberin kejelekan manusia dari sabang sampe merauke,gak cukup layarnya gan, hihihi...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar