Powered By Blogger

"metamorfosis"

ingin menjadi seperti garam, yang apabila melebur bersama semangkok sayur, dia akan tetap asin, walaupun wujudnya sudah tdk terlihat.... (sok puitis ya gw) ws rendra bukan, apalagi chairil anwar, sabodo teuing lah... yach inilah gw, manusia sederhana yang mencoba untuk menjadi kaya,maksudnya kaya hati gan, kalo kaya harta ane belom nyampe kesitu, maklum,cuma karyawan rendahan, yang kalo makan siang larinya kerumah,,, pengen sich kaya yang laen gitu, tiap makan siang bisa duduk manis di resto telaga,atau sambil ketawa ketiwi di sari kuring sambil BBMan,nikmaaat!!! tapi gaji ane gak cukup gan buat makan disitu hiks hiks,,, lah! kenapa gw jadi curhat ya? tapi gak papa dech! kali-kali aja setelah membaca curhatan gw ada yang hatinya tergugah dan segera nraktir gw,ngarep dot.com (gw pernah berjanji buat gak pake nich joke) hahahaha akhirnya dipake juga, emang manusia gak ada yang konsisten dengan omongannya sendiri,hari ini dia ngomong A besok dia ngomong Z, termasuk gw juga sich... tapi kan manusia emang sarangnya salah dan dosa, sarangnya bohong, sarangnya munafik, sarangnya gombal, sarangnya... sarangnya... sarangnya.... waduuh, kalo dibeberin kejelekan manusia dari sabang sampe merauke,gak cukup layarnya gan, hihihi...

Kamis, 19 September 2013

bawakaraeng...



Kamis 16  mei 2013
         Dan akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun tiba,pendakian ke bumi anging mamiri, sulawesi selatan, Setelah semua perabotan lenong masuk keril plus logistik, dan memastikan nggak ada barang yang tertinggal, ok! Tinggal nyetel alarm jam setengah lima kurang biar nggak terlalu mepet,sekarang tinggal bobo manis dulu biar besok pagi nggak kesiangan, zzzzzzzz......
Jumat 17 mei 2013
         Titit titit titit.... hoaamm!!! Alarm yang ane pasang udah bunyi, langsung ngacir ke kamar mandi sabunan plus shampoan dan ritual mandi ini nggak lebih dari lima belas menit, celana kargo warna ijo tua di padu dengan t shirt abu-abu tambah flanel motif kotak-kotak makin menambah cute wkwkwkwkwk!!! Yups! Semua udah lengkap, keril segede orok udah di pundak, tinggal minta restu emak tercinta, restu udah di dapet dengan sedikit wejangan  langsung ane meluncur ke arah BSD junction, jalanan masih sepi Cuma ada beberapa orang tua yang abis pulang sholat subuh dari mushola, Cuma butuh waktu sepuluh menit untuk sampe di mal bsd junction ini, mal yang hampir mati suri karena sepi pengunjung, setelah memasukan motor ke dalam parkiran basement dan langsung keluar dari arah yang sama, tinggal nunggu angkot roda niaga tujuan kali deres, emang dewi fortuna lagi berpihak di ane kayaknya belum nunggu satu menit angkot yang di tunggu nongol, stop bang!!! Untung bangku di depan masih kosong jadi bisa naro keril di samping, jalan raya serpong masih rada sepi cuma beberapa mobil dan truck yang masih seliweran, di dalam angkot ada dua ibu-ibu dan satu cewek yang sepertinya mau berangkat kerja,

           Cuma butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di perempatan pintu air tangerang, setelah membayar sewa angkot lima ribu perak, baru beberapa langkah turun dari angkot seorang bapak-bapak mungkin sekitar empat puluh tahunan menawarkan jasa ojek, awalnya ane tanya berapa kalau ke bandara, si bapak itupun dengan sigap menjawab “lima puluh ribu aja de” haah!!! Mending ane naek taksi, maaf pak kalau segitu gak jadi dech, ane pun ngeloyor pergi, ternyata eh ternyata si bapak mengejar dengan motornya, yaudah tiga puluh ribu aja de buat penglaris,ane masih berusaha nawar dan sepakat akhirnya sedikit cas cis cus mentok di harga dua puluh lima ribu perak,motorpun meluncur menuju bandara soetta melalui gerbang belakang,
             Tiba di bandara langit mulai terang, ah si bapak yang baik hati, ane di turunin persis di depan terminal , mungkin Cuma bandara soetta aja kali ya ojek bisa masuk kedalam bandara hehhe... setelah liat tiket pesawat berangkat jam enam kurang empat puluh, buru-buru ane menuju terminal 1c sambil menunggu teman ane prista, putri bekasi yang udah beberapa kali jalan bareng, dan udah mulai kena racun gunung, sedikit percakapan via whatsap
Ane : prista lo dimana?
Prista : gw di depan loket sky aviation
Ane : waduh dimana tuch? Gw gak tau
Prista : yaudah lo dimana?
Ane : gw di depan loket citilink
Prista : ok, gw kesitu

             Hingga beberapa menit kemudian putri bekasi itupun nongol dengan keril birunya (kalo gak salah), sebenarnya ada satu teman ane lagi. Ane sebut dia si kancil, cewek mungil yang lincah dan sempat beberapa kali ngetrip bareng dia juga, tapi sayang di sayang pas hari H dia mengabarkan berita yang kurang enak di dengar, bahwasannya dia cancel ke bawakaraeng, ahh,,, nita, ini kali ke tiga lo ngelakuin hal yang sama, ya sudahlah akhirnya tinggal ane dan prista yang bertahan"
            Karena prista udah webchekin dari jauh-jauh hari, maka kami hanya tinggal cek bagasi aja,setelah  semua beres kami langsung ngacir ke lantai atas, dari pengeras suara terdengar untuk penumpang tujuan makasar penerbangan ada di jalur tujuh, kami melewati lorong yang sisi kanan dan kirinya terhalang kaca tebal dengan pemandangan beberapa pesawat yang berbaris rapi, untungnya kita lewat garbarata, jadi nggak harus turun ke bawah dan naik tangga lagi untuk masuk ke dalam pesawat.
            Di dalam pesawat sudah banyak penumpang yang duduk, dan ane kebagian di kursi tengah persis dimana sayap pesawat berada, sepertinya pesawat yang kita tumpangi masih baru, terlihat dari interiornya yang masih kinclong,kabar yang ane denger  citilink membeli beberapa airbus untuk menambah armadanya,  beberapa saat kemudian dua pramugari berjalan ke arah penumpang, sambil berdiri memperagakan hal-hal apabila terjadi keadaan darurat, lucunya setiap awal pembicaraan selalu di buka dengan pantun begitupun sebaliknya, setelah semua beres sekali lagi pramugari memastikan bahwa penumpang memakai seat belt dengan benar, sambil berjalan di antara kursi penumpang,dengan lirikan matanya yang mirip penari bali tengok kanan tengok kiri tanpa henti hahahha...
          Dari arah depan sang pilot memberi tahu bahwa sebentar lagi pesawat take off!! Dan perlahan namun pasti burung besi yang kami naiki mulai melesat meninggalkan jakarta, woow!!! Indah sekali dibawah sana, langit biru bersih, dengan awan-awan yang berarak memanjang, sementara di bawah laut jawa yang biru terlihat jelas.



            Sebenarnya kalau di suruh untuk memilih angkutan pada saat ngetrip, ane lebih baik pilih kereta atau bus daripada pesawat, entah kenapa setiap berada dalam pesawat  perasaan selalu nggak enak, pikiran selalu jelek, apalagi saat pesawat sudah berada di ketinggian di atas delapan ribu meter, dimana hanya menyisakan gumpalan awan putih, maka ketakutan ane makin tak terbendung, di tambah getaran pesawat yang makin menciutkan nyali!!  Maka ane Cuma bisa menadahkan kedua tangan sambil komat kamit, Tapi alhamdulilah, penerbangan pagi ini tenang sekali, hanya beberapa kali getaran halus, dan sedikit kejutan dimana dengan tiba-tiba sang pilot menghempaskan pesawat tanpa permisi, sontak ane kaget setengah mampus! belum lagi prista yang tiba-tiba menjerit kaget, mirip sekali dengan wahana histeria di dufan,fuiihh" tapi alhamdulillah pesawat mendarat di bandara Sultan Hasanudin Makassar dengan gemilang ,yeee!!!
             Ini perdana ane ane menjamah bumi sulawesi, dan makassar adalah kota pertama yang ane sambangin, bandara Sultan Hasanudin lumayan megah, di bagian lobby ada beberapa toko souvenir, dan di sisi barat terdapat ruang tunggu untuk penumpang yang hanya di sekat dengan kaca transparan, sementara di tengahnya terdapat eskalator untuk pengunjung, mirip seperti bandara changi di singapur hehehhe... lepas mengambil bagasi yang ada di lantai bawah, kami langsung keluar, baru beberapa meter keluar dari pintu bandara, beberapa calo langsung ngerubutin ane, dengan logat makassarnya mereka terus ngomong sambil memperlihatkan tarif di secarik kertas yang udah di laminating, karena merasa terdesak dan memang gak ada pilihan lain, akhirnya kita putusin naik taksi si calo tersebut, dan ternyata taksi yang kami naikin bukanlah taksi sebenarnya, tapi minivan yang sedikit di rubah, hadeeehh!!!
          Cuaca kota makassar gak jauh beda dengan jakarta, panas menyengat! Di tambah ac yang sama sekali gak dingin semakin menambah gerah ruangan di dalam mobil, kepada sopirnya kami minta di antar ke komplek bla bla bla maklum ane lupa wkwkkwk, sebelumnya ane udah tilfun sodara ian, dan dia ngingetin agar kita turun di komplek bla bla bla tersebut.
lepas setengah jam akhirnya kami tiba di rumah teman ian, ane nggak tau ini kos-kostan atau rumah pribadi, di depan rumah sudah ada tiga motor matic,ohya sebelumnya ane kenalin dulu rombongan yang akan mendaki ke bawakaraeng, selain ane dan prista ada empat orang dari makassar, ian sebagi leader,ada dede, saldi dan alwi, saat kami datang ternyata mereka sedang packing, beberapa keril besar teronggok di pinggir tembok, dan setelah semua beres siap-siaplah kita meluncur menuju malino,sebelum berangkat alwi memimpin doa agar pendakian ke bawakaraeng ini berjalan lancar.
        Ditengah matahari yang menyengat, kami melintas kota makassar yang panas, sama dengan kota lainnya di sisi kanan jalan berjejer ruko-ruko dan gedung-gedung yang tidak terlalu tinggi, selepas keluar dari kota makassar  kami mulai memasuki kabupaten gowa, jalanan yang awalnya mulus berubah jadi berlubang disana sini, malah disatu titik mirip kubangan kerbau, tapi ane sempet terhibur juga, di sepanjang jalan masih ada rumah-rumah panggung rumah tradisional penduduk sulawesi, mirip yang ane liat di anjungan sulsel di taman mini,tapi disini lebih banyak,satu jam perjalanan jalan yang kami lewati semakin berdebu,banyak truck-truck besar hilir mudik membawa pasir, kami harus berhati-hati karena jalan yang nggak mulus penuh lubang disana-sini, di tengah perjalanan tiba-tiba motor yang ane tumpangi bannya bocor untunglah gak jauh dari situ ada tukang tambal ban, dan ternyata ongkos tambal ban di sulawesi mahal cuuuy!!! Tiga puluh lima ribu perak buat satu lobang, gimana kalau bocornya tiga atau empat? Itung sendiri aja yaa hehehhe...

        Dan akhirnya perjalanan bisa kita lanjutkan kembali, jalanan mulai beraspal halus melewati beberapa tikungan,dan tiba-tiba motor yang ane tumpangi kembali oleng, yupps!! Motor yang barusan di tambal ternyata kempes lagi!!! Dan kembali singgah di tempat tambal ban, sementara ian,alwi,dede dan prista udah jauh ninggalin kami di depan, awalnya ane pikir motor ini Cuma kurang angin, hinga tukang tambal yang seorang perempuan muda belia dengan sigap langsung memompa motor tersebut, hingga akhirnya kejadian yang tidak di inginkan terjadi, duaarrr!!!! Ban dalem motor saldi pecah, rupanya si gadis muda belia ini terlalu bersemangat, hingga dia lupa kalo bannya sudah kelebihan angin,ane kaget campur geli setelah liat raut muka itu cewek yang bengong gak jelas hahahha!!! dan walhasil kami harus ganti ban baru, mhhmmmm.... awal perjalanan yang kurang bagus.
hari semakin sore dan udara semakin dingin, di tambah hujan rintik-rintik makin menambah dingin suasana, dan akhirnya setelah melewati beberapa tikungan akhirnya kami tiba di malino, sebuah kota kecil di kabupaten gowa, di sisi kiri dan kanan jalan berdiri villa-villa yang disewakan, kondisinya mirip puncak di bogor, tapi puncak lebih rame dan lebih hidup serta lebih muacet!!! 
suasana Malino





        Hari makin sore, dan gerimis yang belum reda juga memaksa kita untuk berteduh di sebuah warung makan di pinggir jalan, dan kebetulan juga emang belum makan dari pagi, mhhmmm.... semangkok cotto makasar di tambah sepiring nasi anget kayanya mantap juga nich, tapi sayang di sayang di menu cuma ada nasi  goreng,nasi kuning dan nasi campur, kalo ini sich di jakarta juga banyak, tapi ya sudahlah cotto makasar gak ada nasi campur pun jadi, finnaly ane,prista dan alwi pesen nasi campur sedangkan yang laen cuma pesan jagung bakar, yups! urusan makan udah beres walau ayam gorengnya agak keras, ujan udah reda perjalananpun di lanjutkan ke lembanna, desa terakhir sebelum memulai pendakian,udara dingin makin terasa memasuki desa lembanna jalanan semakin sempit, setelah melewati jalanan menurun dan melintas sebuah sungai kecil plus tanjakan curam akhirnya kami tiba di lembatta,desa terakhir di kaki gunung bawakaraeng, jejeran rumah berbaris rapi, sementara di seberang jalan, kebun-kebun milik penduduk setempat terhampar ijo royo-royo, yang unik dari rumah-rumah disini adalah adanya dua papan menyilang dan bertemu di ujungnya hingga membentuk hurup x, sebagian rumah ada yang berbentuk panggung dan sebagian langsung bersentuhan dengan tanah.
          Sekitar jam lima sore, pendakian pun dimulai setelah sebelumnya kami memarkir motor di depan rumah penduduk dan gak lupa meminta izin pendakian kepada ketua adat setempat.
Team enam


 
desa lembanna
          Awal perjalanan menuju pos satu kami masih melewati ladang-ladang perkebunan milik penduduk, lazim di setiap kaki gunung tanaman yang tumbuh semacam kol,wortel,seledri de el el, setengah melewati perjalanan menuju pos satu ane ngedapetin sekumpulan binatang yang ane kira rusa atau sejenisnya,tapi ternyata eh ternyata itu sekumpulan sapi milik penduduk yang memang di lepas liar,oalaaahhh" menjelang magrib akhirnya kita tiba di pos satu,di ketinggian 1718 mdpl.
         Setelah istirahat sebentar untuk minum perjalanan dilanjutkan menuju pos dua, karena mulai malam head lamp pun memainkan peranannya,treck menuju pos dua masih landai,namun kami mulai memasuki rimbunnya hutan,hingga akhirnya bertemu pos tiga.  

         Dari pos dua menuju pos tiga rombongan kami sempat tersesat, ian kurang yakin dengan jalurnya, setelah ngubek-ngubek sekitaran hutan akhirnya ketemu juga jalur menuju pos tiga, ternyata kami harus belok ke kiri bukan kekanan,selain tim kami ada tim lain yang jalan malam itu juga,mereka lebih banyak dan jalannnya pun lebih cepat.
Cerita mistis pos tiga!
         Konon sekitar tahun 1980 an ada seorang perempuan yang gantung diri disini, yang katanya sich keperawanannya telah diambil sama pacarnya, dan pacarnya nggak mau bertanggung jawab, hingga akhirnya arwah perempuan ini selalu menggangu pendaki khususnya pendaki pria, mulai di buat nyasar,ada angin secara tiba-tiba, tapi si arwah akan baik dengan pendaki wanita, “beruntung juga ane bawa prista hihihi” tapi entahlah,apakah cerita itu benar atau bohong adanya, tapi sepanjang perjalanan ian dan saldi setiap beberapa puluh meter selalu teriak memanggil nama masing-masing saling bergantian,ada kejadian dimana saat beristirahat di pos tiga ane melihat dari rimbunnya pohon sepasang mata yang bercahaya, langsung head lamp ane arahkan ke cahaya tersebut, dan ternyata seekor kuskus yang sedang cari makan, yaaa! Momen ini harus di abadikan, dengan terburu-buru ane merogoh kamera yang ada di tas depan dan baru beberapa detik ane mengambil kamera di tas,sang kuskus udah ngacir entah kemana.
Menuju pos empat dan lima,sepanjang perjalanan hanya kegelapan yang ada, dan suara-suara binatang malam khas hutan rimba.


           Dan sekitar jam sepuluh malam akhirnya kami tiba pos lima, tempatnya lumayan luas, di beberapa titik sudah ada tenda-tenda yang sudah terpasang milik pendaki lain, ahhh... cuaca malam ini benar-benar ramah, bulan yang hampir sempurna menggantung terang di atas sana, ditemani ribuan bintang yang berkelip manja, nampak di barat kota makassar berlimpah cahaya, subhanallah!!! Indah banget, ok! Sekarang saatnya mendirikan tenda, satu persatu perabotan lenong di keluarin, logistik, sb,matras,dan tenda ternyata ada paling bawah, sempet kaget pas ngeluarin tenda, semua perabotan ane basah! Mulai dari matras,tenda dan sb yang agak demek, dan ane baru inget ternyata watertank lah penyebabnya, watertank ane bocor!  Hingga air merembes ke keril, akhirnya tenda sudah terpasang walaupun basah, mata sepertinya udah lelah banget dan suhu yang mulai dingin menusuk, masuk ke tenda adalah opsi terbaik, sebelum tidur prista memberi satu cup popmie panas, makanan terenak di malam yang dingin, mmhmmm... rebahan di matras yang dingin, dan setelah itu ane gak inget apa-apa,pules" zzzzzzz.....
Sabtu 18 Mei 2013
          Sinar mentari pagi ngebangunin ane dari tidur pules semalem, cahayanya yang hangat menyelusup hingga masuk ke dalam tenda,diluar sudah rame dengan celoteh teman-teman yang lebih dulu bangun,benar-benar pagi yang indah,panasnya lumayan buat menjemur peralatan yang basah, teman-teman dari makassar sudah sibuk dengan masaknya, pantas saja keril yang di bawa ian besar sekali, peralatan mereka cukup lengkap, sedangkan ane cuma bawa nesting penyok  hahahaha...ohya, di pos lima ini terdapat sumber air untuk minum, jaraknya sekitar seratus meter dari tempat ngecamp,kita cukup menuruni bukit dan akan terdengar gemericik airnya, dan sumber air di pos lima ini bukan berupa mata air, melainkan sungai kecil yang mengalir,airnya segar!lebih segar dari air mineral di supermarket :) ane hanya mengisi satu botol besar,karena di pos delapan masih ada sumber air.
       Setelah kelar sarapan,dan beres-beres tenda,sekitar jam sebelas siang kami ngelanjutin perjalanan menuju pos enam, jalur menuju pos enam banyak banget pohon-pohon yang meranggas,yang hanya menyisakan batang dan rantingnya aja,mungkin ini kebakaran atau apalah ane juga kurang tau, jalur pos enam ini ngingetin ane pada hutan mati di papandayan.

anjing hitam yang bolak balik turun gunung

ngecamp di pos lima

hutan yang meranggas di pos enam

       Setelah melewati jalur yang mulai berbatu dan pohon-pohon yang meranggas akhirnya kita tiba juga di pos enam,di ketinggian 1713 mdpl, pos enam hanya berupa tanah terbuka yang nggak begitu luas,dan ada tumpukan sampah sisa sisa logistik para pendaki, dan ane baru nyadar kenapa banyak laler disini?


Hutan Lumut

       Sekedar ngebasahin tenggorokan biar nggak kering, perjalanan pun dilanjut ke pos tujuh, jalur semakin rapat oleh pohon-pohon bertajuk rindang yang menutup langit,suasananya begitu lembab,aroma hutan hujan tropis seakan melegakan tenggorokan, disisi kanan dan kiri jalur begitu banyak lumut yang menempel di antara batang,cabang,hingga ranting,semua hijau... rasa lelah karena memanggul keril dan juga tanjakan terus menerus serasa hilang, ane serasa di hipnotis oleh alam,dan semuanya indah.

jalur menuju pos tujuh

hutan lumut
          Tiba dipos tujuh, matahari mulai bergeser ke barat, akhirnya kita sampe juga di pos bayangan,sedangkan pos tujuh berada dibawahnya,letak pos bayangan ini berada di sebuah bukit kecil,di antara bongkahan-bongkahan batu besar, kita sempatin rehat sebentar, kata ian bila cuaca cerah, kota makassar dan lembah rama bisa terlihat dari sini, namun sayangnya kondisi cuaca sedang kurang bersahabat, kabut menghalangi pandangan, kita hanya bisa memandang kabut putih sambil makan sepotong apel pemberian prista, dan ane bersumpah! inilah apel terenak yang pernah ane makan.


           Tiba di pos tujuh kami hanya istirahat sebentar, ketinggian sudah mencapai 2548 mdpl, perjalanan dari pos tujuh ke pos delapan inilah yang paling panjang dan paling melelahkan.


       Sepanjang perjalanan menuju pos delapan, lebatnya hutan masih akan terus mengikuti kita,ditambah jalur yang menurun dan curam, di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, awalnya hanya gerimis kecil, namun lama kelamaan hujannya makin deras, dengan sangat terpaksa ane harus buka keril dan mengambil jas hujan, ian saldi dan alwi sudah lebih dulu, sementara ane,prista dan dede ada di belakang, diantara hujan yang deras dan jalur yang licin, kami harus berhati-hati agar tidak terpelset, sampe di pos delapan hujan belum reda juga, terpaksa kita berteduh di tenda orang, hampir satu jam kita menunggu hujan reda, menahan dingin dan lapar akhirnya hujan pun mulai berangsur surut, udara semakin dingin dan masih ada dua pos lagi yang harus kita lewati sebelum mencapai puncak bawakaraeng.
"Sunset nan menawan"
       Menuju pos sembilan kita melewati sebuah sungai, dan lanjut menanjak dengan tanjakan yang super curam! di depan ian yang pertama memimpin jalan, lanjut prista dan ane, sementara saldi,alwi dan dede menyusul di belakang, dan lagi-lagi hutan lumut jadi pemandangan utama di pos sembilan ini, matahari semakin tergelincir ke barat, ian berkata bila ingin liat sunset harus cepet-cepet jalannya, sebelum matahari bener-benar tenggelam, dan kita seperti berlomba dengan matahari, siapa yang lebih dulu, diantara pegelnya kaki dan tangan yang kesemutan, akhirnya kita bisa melihat sunset yang maha indah itu,dan rasa lelah itu terbayar,dengan lukisan alam yang nyata, di ujung barat sana sang mentari mulai tenggelam, menyisakan rona jingga yang menawan, awan putih yang berarak menyelimuti bukit-bukit yang menyebul, "maka,nikmat Tuhan manakah yang engkau dustai"

sunset di pos sembilan


sunset terindah

            Puas mengagumi karya Illahi, perjalanan pun berlanjut menuju pos sepuluh, jalur menuju pos sepuluh ini lumayan terbuka, di sepanjang jalur hanya tumbuhan perdu dan sedikit edelweiss yang mendominasi, jalanan yang mulai berbatu agak sedikit menyulitkan, di tambah hari yang mulai gelap, kembali head lamp dikeluarin, ahh sial!!! Nyala head lamp pun tinggal setengah dan nggak sempet juga beli batre cadangan,dengan perlahan kami merayap di antara punggungan gunung, berpegangan di antara batu-batu atau menarik akar, sementara ian sudah jauh ninggalin kami, yang terlihat  hanya nyala lampunya, pun dengan alwi,saldi dan dede, hanya kilatan cahaya lampu sebagai penanda bahwa mereka masih di bawah,
                   Cuaca malem ini sama persis dengan malem kemaren, langit biru dengan sinar bulan dan taburan bintang yang enggan beranajak , setelah melewati daerah yang cukup terbuka, kembali kita melewati hutan lumut yang tertutup rapat, sinar bulan yang redup semakin hilang oleh tajuk-tajuk pohon yang menghalanginya, beberapa jalur yang kami lewati mulai tergenang air sisa hujan sore tadi,di tambah lumpur yang mengendap di sepanjang jalur, udara semakin dingin, tim yang awalnya enam tinggal menyisakan ane dan prista, sementara ian mungkin sudah sampe di pos sepuluh, sementara saldi,alwi dan dede jauh di bawah kami, sempat ane berteriak memanggil ian,namun cuma keheningan yang ada, perjalanan pun kami lanjutkan, dan masih terus menelusuri hutan yang nggak ada habisnya,kita seperti berada di sebuah terowongan yang tanpa ada pintu untuk keluar, perasaan cemas mulai merasuk di pikiran ane, “dalam hati ane bertanya ,apa ini jalur yang benar?” gimana kalau kita tersesat? Sementara kita berdua belum pernah kemari” ditambah lagi jalur yang kami lewati mulai nggak jelas, ane melihat seperti ada dua jalur,satu kekanan dan satu kekiri, untuk beberapa saat kita hanya terdiam di tengah hutan yang nggak jelas ini, sambil menunggu ketiga teman kami yang masih di bawah, namun hampir sepuluh menit kita bengong disini,tanda-tanda mereka akan dateng nggak ada sama sekali, dan pikiran jelek mulai kembali muncul, apa memang kita yang salah jalan, atau mereka yang jalannya lama, di tambah ane mencium bau ikan asin, dan seperti ada orang yang mengobrol,bukan cuma ane yang ngerasain, prista pun merasakan juga, akhirnya dengan berbagai pertimbangan, kita ngelanjutin perjalanan.                                                                                                      Menuju pos sepuluh, sebelumnya ane mastiin bahwa jalur kirilah yang benar, setelah ane melihat sisa bungkus permen, Bismillah... semoga ini jalur yang benar, perlahan kita berjalan dengan di terangi cahaya head lamp yang mulai surut, sesekali ane melihat kebawah, moga-moga masih nemu sisa-sisa bungkus makanan yang tinggali pendaki, sementara prista persis di belakang ane,perlahan namun pasti pepohonan yang awalanya begitu rapat,sedikit demi sedikit mulai jarang, hingga akhirnya di sebelah kiri kami sepasang tenda dengan cahaya didalamnya membuat lega hati ini, Alhamdulillah kita nggak nyasar, dan ternyata ian sudah mendirikan tenda, namun jaraknya agak sedikit jauh dari tenda yang barusan kita temui.
                  Sekira jam delapan malam akhirnya kita tiba di pos sepuluh,prosesi berikutnya adalah mendirikan tenda, males banget rasanya sekedar untuk membuka keril saja, di tambah dingin yang nyelekit, ahhhh... rasanya pengen segera tidur, untunglah tenda ane cuma tenda kecil, dan memasangnya pun mudah, yupzz!! Tenda sudah terpasang, dan setengah jam kemudian alwi,dede dan saldi akhirnya tiba juga, mungkin karena terlalu lelah,malam ini nggak ada yang masak atau sekedar menyeduh kopi, udara dingin bawakaraeng cukup membuat kami tidur teratur di dalam tenda, walau kadang beberapa kali  terbangun oleh udara dingin.

masak sebelum pulang

Summit...!!!



Minggu 19 mei 2013
       Summit adalah kata terindah saat mendaki,namun tidak untuk pagi ini, rasa males karena udara dingin jadi alesan untuk tetap berada di dalam tenda, namun perjuangan selama dua hari ke bawakaraeng rasanya akan sia-sia tanpa berdiri di puncak, sekitar jam enam pagi akhirnya ane,prista dan ian lanjut menuju puncak,sementara yang lain masih di buai angin gunung, ternyata jarak dari pos sepuluh menuju puncak cukup dekat, kita hanya mendaki  padang rumput yang nggak begitu luas,dan akhirnya tugu triangulasi yang menjadi penanda terlihat jelas, yeaaa!!! Kita sudah di puncak bawakaraeng, nampak dari arah timur semburat mentari mulai memancar, di depan kami gunung lampobattang berdiri indah dengan warna hijau kebiru-biruan, sementara di timur lembah rama tersaji begitu cantik, padang yang hijau ibarat karpet raksasa, di tengahnya aliran sungai yang berkelok, ibarat selendang bidadari yang jatuh ke bumi, dan kami puas atas sajian sajian alam yang maha indah ini.
        Puas menyaksikan lukisan alam yang begitu ciamik, dan puas bernarsis ria hehehhe, akhirnya kami turun menuju pos sepuluh, sekira jam dua belas siang, setelah sarapan dan packing, kami siap untuk kembali turun, dan petualangan kali ini, menyajikan banyak episode menarik tentang pengalaman mendaki,
Salut buat prista yang bisa muncak walau dalam kondisi kurang fit,terimakasih banyak-banyak buat teman-teman makassar Ian,Alwi,Saldi dan Dede atas kebersamaannya selama mendaki.
Salam satu jiwa, Indonesia!!!!

tugu triangulasi

view gunung lampobattang

view gunung lampobattang

vew lembah rama

mata air di puncak bawakaraeng

menatap sunrise

full team


tugu triangulasi